Paket Kunjungan Reguler Updated
Nikmati keindahan alam Alas Watu Kebonan dengan panduan wisata lokal yang berpengalaman.
- ✓Tiket masuk
- ✓Pemandu wisata lokal
- ✓Air minum
- ✓Dokumentasi foto
Mulai dari
Rp25.000
Durasi 2–3 jam

Temukan pesona alam, bebatuan unik, koleksi flora, paket wisata, dan pengalaman berkunjung yang terintegrasi secara digital.
Alas Watu Kebonan dikembangkan sebagai kawasan wisata berbasis potensi lokal yang memadukan keindahan alam, identitas bebatuan, katalog flora, serta pengalaman edukatif bagi pengunjung.
10+
Spot alam dan area jelajah wisata
QR
Katalog flora dan bebatuan digital

Reservasi dapat dilakukan langsung melalui WhatsApp untuk informasi jadwal kunjungan, pilihan paket wisata, kebutuhan kegiatan, dan dokumentasi selama berada di kawasan Alas Watu Kebonan.
01
Pilih paket wisata yang tersedia.
02
Konfirmasi jadwal dengan admin.
03
Datang sesuai waktu reservasi.
Admin Wisata
Response cepat, 08.00–17.00 WIB
Pilihan Paket Tersedia
Lihat semua →Paket Kunjungan Reguler Updated
2–3 jam
Rp25.000
Paket Edukasi Alam Updated
3–4 jam
Rp35.000
Untuk kunjungan kelompok, dokumentasi, atau kegiatan khusus, silakan hubungi admin agar jadwal dan kebutuhan dapat disesuaikan.
Chat Admin Sekarang→Temukan pilihan paket wisata yang sesuai untuk kunjungan keluarga, rombongan, edukasi, maupun dokumentasi kegiatan di Alas Watu Kebonan.
Nikmati keindahan alam Alas Watu Kebonan dengan panduan wisata lokal yang berpengalaman.
Mulai dari
Rp25.000
Durasi 2–3 jam
Paket wisata edukatif untuk mengenal potensi alam, batuan, dan tanaman khas kawasan Alas Watu Kebonan.
Mulai dari
Rp35.000
Durasi 3–4 jam
Butuh paket khusus?
Untuk kunjungan rombongan, edukasi, dokumentasi, atau kegiatan khusus, jadwal dan kebutuhan dapat disesuaikan melalui admin.
Informasi tanaman revitalisasi yang mendukung kawasan wisata lebih asri, edukatif, dan mudah diakses melalui katalog digital.

Elephantopus scaber
Penawar jambe merupakan tumbuhan herba yang banyak tumbuh liar di padang rumput, tepi jalan, maupun lahan terbuka. Tanaman ini memiliki daun yang tumbuh membentuk roset di pangkal batang dengan permukaan yang agak kasar. Bunganya berukuran kecil dan berwarna ungu keunguan. Di Indonesia, penawar jambe telah lama dikenal sebagai salah satu tanaman obat tradisional. Beberapa bagian tanaman ini dimanfaatkan masyarakat untuk pengobatan herbal, meskipun penggunaannya sebaiknya tetap memperhatikan anjuran tenaga kesehatan. Selain itu, keberadaannya juga berperan dalam menjaga keanekaragaman tumbuhan di suatu kawasan. FUNFACT Nama "penawar jambe" berasal dari kepercayaan masyarakat bahwa tanaman ini memiliki berbagai khasiat sebagai obat tradisional. Meski sering dianggap gulma, tumbuhan ini memiliki nilai penting sebagai salah satu tanaman herbal lokal.

Alocasia macrorrhizos
Bira atau keladi raksasa merupakan tanaman tropis yang mudah dikenali dari daunnya yang sangat besar berbentuk menyerupai hati. Tanaman ini banyak tumbuh di tempat yang lembap dan teduh, seperti tepi sungai, kebun, maupun kawasan wisata. Selain menjadi tanaman hias, bira juga membantu menjaga kelembapan tanah dan memberikan nuansa tropis yang alami. Daunnya yang lebar membuat tanaman ini menjadi salah satu tumbuhan yang paling mencolok di suatu area. FUNFACT Daun bira dapat tumbuh hingga lebih dari 1 meter panjangnya. Karena ukurannya yang besar, tanaman ini sering dijuluki sebagai "keladi raksasa".

Dieffenbachia seguine
Sri rejeki merupakan tanaman hias yang memiliki daun lebar berwarna hijau dengan corak putih atau krem yang menarik. Tanaman ini banyak digunakan sebagai penghias taman maupun ruangan karena tampilannya yang cantik dan mudah dirawat. Tanaman ini mampu tumbuh dengan baik di tempat yang teduh maupun terkena sinar matahari tidak langsung. Keindahan daunnya menjadikan sri rejeki sebagai salah satu tanaman hias yang populer. FUNFACT Meskipun indah, getah tanaman sri rejeki dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mulut jika terkena atau tertelan. Oleh karena itu, sebaiknya tidak dimainkan atau dikonsumsi.

Dimocarpus longan
Kelengkeng merupakan tanaman buah yang menghasilkan buah kecil dengan kulit berwarna cokelat muda dan daging buah bening yang manis. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Indonesia karena buahnya digemari oleh berbagai kalangan. Selain dikonsumsi segar, buah kelengkeng juga dapat diolah menjadi berbagai makanan dan minuman. Pohonnya memiliki tajuk yang cukup rindang sehingga juga memberikan keteduhan. FUNFACT Nama "longan" berasal dari bahasa Tiongkok yang berarti "mata naga", karena bentuk buahnya menyerupai mata saat dibelah.
Koleksi bebatuan unik sebagai daya tarik, identitas visual kawasan, dan media edukasi alam di Alas Watu Kebonan.

Very Coarse Calcareous Sandstone (Wentworth, 1922)
Kokoh dan tebal bagai perisai pelindung, kesan itulah yang tergambar dari nama batu ini. Very coarse calcareous sandstone dari Formasi Kerek ini terbentuk sekitar 15-8 juta tahun lalu pada Zaman Miosen Tengah-Akhir, dari endapan pasir kasar bercampur karbonat yang mengendap tebal tanpa perlapisan yang jelas alias masif. Namun di balik kekokohannya, batu ini menyimpan kejutan menarik: jejak-jejak organisme purba berupa trace fossils atau bekas jejalahan makhluk laut yang pernah hidup dan mencari makan di dasar laut jutaan tahun silam. Jejak-jejak ini menjadi bukti bahwa meski tampak "kosong", dasar laut purba Boyolali dulu dipenuhi kehidupan yang aktif bergerak, menjadikan batu ini sebagai arsip alami dari ekosistem laut kuno yang tersembunyi dalam kekokohan sang perisai.

Fine Calcareous Sandstone (Wentworth, 1922)
Amati baik-baik permukaan batu ini: ada dua jejak alam yang berpadu di sini. Pertama, garis-garis halus berlapis yang disebut laminasi, terbentuk dari pengendapan butiran pasir halus bercampur karbonat secara bertahap, lapis demi lapis, saat kondisi air laut relatif tenang jutaan tahun silam. Kedua, jejak-jejak menyerupai lorong atau liang kecil yang disebut burrow, yakni bekas galian organisme purba yang aktif menerobos dan bersarang di dalam sedimen dasar laut sebelum akhirnya mengeras menjadi batu. Fine calcareous sandstone dari Formasi Kerek ini terbentuk sekitar 15-8 juta tahun lalu pada Zaman Miosen Tengah-Akhir, dan perpaduan antara laminasi yang rapi serta burrow yang mengganggu keteraturannya ini menjadikan batu ini sebagai catatan ganda: satu dari proses fisik pengendapan, satu lagi dari jejak kehidupan purba yang pernah menghuni dasar laut kuno Boyolali.

Cross-Bedding Calcareous Sandstone (Wentworth, 1922)
Sekilas batu ini tampak seperti dua batuan berbeda yang menyatu, bagian luar yang lebih gelap seolah menyelimuti bagian dalam yang berwarna lebih terang. Namun sebenarnya keduanya adalah calcareous sandstone yang sama persis, hanya saja perbedaan warna dan pola ini tercipta dari perbedaan intensitas pelapukan serta oksidasi mineral besi yang terjadi di bagian luar batu seiring waktu. Yang tak kalah menarik, batu ini juga menyimpan struktur cross bedding, yakni lapisan-lapisan miring yang saling bersilangan, jejak dari arus air atau angin purba yang membawa dan mengendapkan butiran sedimen dari berbagai arah jutaan tahun silam. Perpaduan "selimut" alami dan cross bedding ini menjadikan batu ini sebagai catatan ganda: satu dari proses pelapukan permukaan, satu lagi dari dinamika arus purba yang membentuk lapisan dalamnya.

Grainstone (Embry & Klovan, 1971)
Mengapa jejak organisme purba ini bisa membentuk pola berkelok menyerupai otak? Jawabannya ada pada cara organisme purba menjelajah sedimen karbonat yang masih lunak. Alih-alih menggali dengan satu arah lurus, organisme ini bergerak berulang kali menelusuri dan menyilangi jalur yang sama maupun jalur baru, saling tumpang tindih hingga membentuk jaringan liang yang padat dan berkelok-kelok. Pola bioturbasi intensif inilah yang kemudian terekam dan mengeras bersama batuan grainstone ini, menghasilkan struktur permukaan yang menyerupai lekukan-lekukan pada otak. Semakin aktif dan padat aktivitas organisme purba menjelajahi satu area, semakin rumit pula jalinan pola yang tercipta, menjadikan batu ini sebagai rekaman intensitas kehidupan purba yang pernah begitu ramai di dasar laut kuno.
Cerita pengunjung yang sudah menikmati suasana alam, katalog edukatif, dan pengalaman wisata di Alas Watu Kebonan.
4.9 rata-rata rating
“Pengalaman wisata yang menyenangkan.”
Rina Lestari
Pengunjung Alas Watu
“Pengalaman wisata yang menyenangkan.”
Andi Saputra
Pengunjung Alas Watu
“Pengalaman wisata yang menyenangkan.”
Sari Dewi Pratiwi
Pengunjung Alas Watu
Dapatkan dokumentasi terbaru, informasi kegiatan, kabar wisata, dan perkembangan Alas Watu Kebonan melalui kanal resmi kami.
Kanal Resmi
alaswatukebonan
Temukan kami di
TikTok
Kanal Resmi
alaswatukebonan
Temukan kami di
Kanal Resmi
alaswatukebonan
Temukan kami di
Kanal Resmi
Alas Watu Kebonan
Temukan kami di
YouTube
Tandai akun resmi kami saat berkunjung ke Alas Watu Kebonan.
Peta digital membantu pengunjung memahami titik-titik penting, area jelajah, spot foto, flora, bebatuan, serta berbagai potensi kawasan Desa Wisata Kebonan.
Gunakan fitur perbesar, perkecil, legenda, dan navigasi pada peta untuk menjelajahi kawasan wisata.
Buka Peta Layar PenuhOverlay Peta
Temukan informasi mengenai koordinat lokasi, jalur jelajah, flora, bebatuan unik, spot foto, serta berbagai fasilitas yang tersedia di kawasan Alas Watu Kebonan.
Petunjuk
Klik atau sentuh area peta untuk mulai menjelajah. Gunakan tombol layar penuh untuk tampilan yang lebih luas.
Hubungi admin untuk informasi reservasi, jam operasional, lokasi wisata, dan kebutuhan kunjungan ke Alas Watu Kebonan.
WhatsApp Admin
Response cepat, 08.00–17.00 WIB
Jam Operasional
Senin – Minggu, termasuk hari libur
Lokasi Wisata
Pulutan, RT.06/RW.02, Dusun I, Kebonan, Kec. Karanggede, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah 57381